Selasa, 27 Desember 2011

FAN FICTION "CERITA HIDUPKU"

CERITA HIDUPKU


Orangtua yang tak pernah bertengkar,keluarga yang bahagia,orangtua yang sesalu memperhatikan anaknya,dan orang tua yang sesalu bertanya bagaimana harimu disekolah?.
Mungkin itu yang terjadi disemua keluarga tapi,tidak dengan keluargaku.Keluargaku berantakan orangtua selalu bertengkar karena masalah yang sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan.Mungkin itu terjadi karena orangtuaku dijodohkan oleh kakekku.Mereka terpaksa menikah karena paksaan.

Dan dipagi hari itu..

“Sudahlah,itukan masalah sepele.jangan dibahas lagi.Akukan pulang malam untuk cari uang
dan untuk kau juga.” kata ayahku pada ibuku.
“Halah,kamu pasti bohong.Aku tahu kemarin kamu pergi dengan perempuan itu.” kata ibuku
sambil menatap tajam ke arah ayahku.

Suasana pagi hari yang selalu ku dengar.Ingin aku lari dari kenyataan keluarga yang seperti ini tapi aku tahu pasti aku tidak akan bisa lari dari kenyataan.

Pagi ini aku berangkat sekolah dengan berjalan kaki.Semua mata orang dijalan seperti memperhatikan aku,mungkin karena pakaianku yang berantakan.Dan sama seperti dijalan tadi disekolahpun semua mata tertuju padaku.

“Hei,kamu Rendi kesini cepat.” panggil salah satu guru BP ku yang sudah menanti didepan
pintu gerbang dan akan menegur semua murid yang berpakaian kurang rapi.

Akupun dengan terpaksa menghentikan langkahku dan berbalik menuju keguru BP ku yang sudah siap mengomeliku dengan segala perkataan.Betulkan dia mengomeliku,hampir seperempat jam aku diomeli sampai akhirnya dia mengijinkan untuk masuk kelas.

Aku memasuki ruang kelas.Aku duduk dibelakang dengan seorang sahabatku yang bernama Lian.Dialah satu-satunya orang yang bisa mengerti keadaanku dan yang selalu memberi semangat dan motivasi untuk aku harus bisa bertahan dalam menghadapi kenyataan.

“Hai,boss tumben berangkat pagi.” kata Lian sambil melempar senyum kepadaku.
“Hai,biasalah kalau aku dirumah terus lama-lama kepalaku bisa pecah,makanya aku berangkat  
pagi.” kataku sambil menghempaskan tubuhku dikursi kosong dibelakang Lian.

Tak lama kemudian masuklan kepal sekolahku dengan datang bersama seseorang gadis.

“Selamat pagi anak-anak.” sapanya kepada seluruh teman sekelasku.
“Pagi pak.” jawab semuanya.
“Kali ini bapak kesini akan mengenalkan kalian semua kepada murid yang baru saja pindah
kesekolah kita yang tercinta ini.” katanya sambil menebar senyum.
“Sekarang coba kamu perkenalkan dirimu pada semuanya.” kata pak kepala sekekolah pada murid baru  itu.
 “Hai,semuanya perkenalkan namaku Rista Angelia,aku pindahan dari sebuah kota kecil di jawa timur yaitu Ponorogo,aku pindah ke jakarta karena ayahku dipindah tugaskan kesini” kata murid baru itu yang ternyata bernama Rista dan dia berkata dengan penuh senyum dan semangat.
“Rista sekarang kamu duduk dibangku yang kosong itu.”kata kepala sekolah kepada Rista sambil menunjuk kearah bangku kosong disebelahku.

Murid baru itu datang menghampiriku dan dia duduk disebelahku.Dia tersenyum kepadaku dan berkata.

“Hai,namaku Rista.” katanya sambil mengulurkan tangannya kepadaku.
“Rendi.” kataku namun tidak menanggapi uluran tangannya.

Waktu demi waktu pelajaran berlalu.Tak terasa bel pulang sekolahpun berbunyi.Aku lantas cepat-cepat meninggalkan sekolah.Namu aku tidak langsung pulang kerumah namun pergi kesebuah bukit yang tinggi dan berteriak dengan sangat keras untuk melepas bebanku hari ini.

“Dasar orangtua tak mengerti perasaan anaknya,bisanya cuma bertengkar hal yang tak
penting.Aku sudah lelah dengan semua ini.Orangtua yang tidak bertanggung jawab mereka
hanya bisa memikirkan diri mereka sendiri.” kataku sambil bertingkah seperti orang gila.

Setelah merasa bebanku berkurang aku pulang kerumah.Ketika aku sampai didepan rumah aku lihat lampu rumahku yang belum menyala walaupun sudah sore.Aku masuk kerumah dengan rasa hampa dan aku sudah bisa menebak bahwa tidak ada seorangpun dirumahku.Ayah dan ibuku pasti pergi entah kemana.Namun aku memiliki rasa senang karena tidak ada suara-suara pertengkaran untuk sejenak.

Aku langsung menuju kamarku dan menghempaskan tubuhku ketempat tidurku untuk melepaskan penat.Kupejamkan mataku untuk sesaat dan mulai terpejam dan masuk kedalam alam bawah sadar.Namun semua itu terpecah tepat saat suara gebrakkan pintu yang begitu keras dan aku bergegas keluar kamar dan melihat keluar ternyata orangtuaku sedang bertengkar.

“Apa-apa kamu nampar aku,apa hak kamu aku tanya apa hak kamu nampar aku.” kata ibuku
dengan isak tangis kepada ayahku.
“Aku punya hak aku suamimu,aku yang harusnya tanya kepadamu siapa laki-laki yang jalan
denganmu itu,cepat jawab.” kata ayahku dengan keras membentak ibu.

Namun aku sudah tidak peduli lagi dengan mereka karena mereka sudah terlalu sering bertengkar.Namun ada satu perkataan yang membuat aku seperti mati kaku dan tercengang.

“Ayo kita bercerai saja.” kata ibu sambil membentak ayahku yang sama kagetnya.
“Kalau itu maumu ayo kita bercerai,aku juga sudah tidak tahan hidup denganmu.” kata ayahku
yang juga membentak dan terdengar seperti menantang.
“Baiklah,lebih cepat lebih baik.” kata ibu dengan santainya.

Merekapun pergi tanpa kuketahui pergi kemana.

Setelah kudengar pernyataan itu rasa sakit dan kecewaku makin bertambah kepada mereka berdua yaitu kedua orangtuaku.rasa kecewa namun aku tak tahu haru melampiaskan kemarahan dan kekecewaan pada siapa.Aku seperti sudah tidak ada motivasi dan semangat hidup lagi dan ingin membuatku melakukan sasuatu yaitu bunuh diri.Aku segera melangkah dan memcari racun yang tikus yang ada digudang dan segara akan kuminum.Tapi usahaku digagalkan oleh seseorang yang kukenal yaitu Rasti.

“jangan Ren,kamu mau apa minum racun itu,jangan ren hidupmu masih panjang.” kata Rasti
sambil membuang racun yang ada ditangganku.
“Mau apa kau kesini dan tahu dari mana kau rumahku.” kataku
“Aku dengar suara keributan dari rumah ini karena rumahku tepat didepan dan aku masuk
kerumah ini untuk memberikan bingkisan perkenalan ini.Tapi ketika aku masuk malah
melihat kamu mau minun racun,makanya aku mau menolongmu.”katanya sambil ingin
menenangkanku.
“Jangan ganggu aku lagi dan jangan campuri kehidupanku.pergi..sana pergi...” kataku.
“Tapi.” katanya
“Pergi.” kataku membentak sambil mendorongnya keluar dari rumahku.

Aku mengusirnya dengan kasar dan aku sekarang hanya bisa menangisis hidupku yang tak tahu arah.

“Hancur....hancur sudah harapanku dengan kalian berdua.” kataku dengan penuh isak tangis.

Esok harinya...
Aku terbangun dan tak terasa ternya aku tidur dilantai.Aku segera bangun dan langsung bergegas pergi keluar rumah tanpa tujuan dan tak tahu entah kemana.Aku hanya ingin menuruti langkah kakiku.Handphone ku terus berdering tanpa henti dan aku terpaksa untu menganggkatnya.

“Hallo.” kata Lian
“Hai.” kataku
“Kemana aja kau,disekolah gak ada,aku cari dirumahmu kamu juga gak ada,kemana
kamu,kalau kau ada masalah ayo cerita sama aku.Aku kan sahabatkamu pa bukan?.” Kata Lian.
“Aku sekarang gak mau ketemu siapa pun,aku mau sendiri.” kataku sambil menutup telepon
Lian yang sepertinya masih mau bertanya ada apa denganku.

Saat aku ada dirumah malam itu kudapati saat itu kedua orangtuaku sedang duduk di ruang tamu.Ketika aku lewat, mereka memanggilku dan menyuruhku duduk bersama mereka.

 ”Rendi,duduk sini dulu.” kata ayahku.
“Ibu mau bicara.Ibu dan ayah sudah memikirkan dengan masak-masak.Sepertinya ayah dan ibu sudah tidak bisa bersama lagi.” kata ibuku dengan penuh isak tangis.
“Apa yang dikatakan ibumu itu benar,ayah sudah tidak bisa bersama lagi dengan ibumu.Dan kamu harus mengerti itu.” katanya hanya bisa menundukkan kepala saja.
“Terserah kamu mau menyalahkan ibu.Tapi beginilah adanya ibu sudah tidak bisa lagi dengan ayahmu.” kata ibu.
“Apa ayah dan ibu tidak memikirkan perasaanku dan apakan dengan begini akan menyelesaikan masalah dan apa dengan ini akan menjadi lebih baik.Kalau itu yang kalian mau silahkan lakukan tak usah lagi tanya pendapatku.Sepertinya jika aku berpentapat juga tidak dapat mengubah keegoisan kailan.” kataku sambil meninggalkan ruang tamu rumahku.

Aku terus berlari keluar dari rumah tanpa arah dan tujuan.Tak terasa langkahku terhenti di depan sebuat masjid.Ketika berhenti di depan masjid itu,hatiku tertarik untuk memasukinya.Aku sudah lupa kapan aku terakhir kalinya shalat.Aku langsung melangkahkan kakiku ketempat wudhu dan akan menjalankan shalat.

“Ya..Allah.ampunilah semua dosa hambamu ini.Aku sadar hambamu ini banyak dosa.Tapi aku tahu pasti Allah mau mengampuni setiap hambanya yang berdosa atau berbuat salah.Ya..Allah,tolonglah hambamu ini yang sedang tidak tahu mana yang benar dan salah yang sedang galau,tak tahu apa yang harus dilakukan dengan keadaan yang berantakan.Kutahu pasti Allah menjalankan takdir ini ada hikmahnya.Ya...Allah berikanlah pejuntuk hambamu ini.” kataku meminta ampun.

Setelah aku menjalankan shalat dan tinggal beberapa hari di masjid yang megah ini,aku memutuskan untuk kembali kerumah.Pada saat aku sampai dirumah,aku melihat kedua orangtuaku yang beres-beres dan bersiap meninggalkan rumah ini.

“assalamualaikum.” Kataku.
“Rendi,kamu udah pulang nak.” Kata ibuku.
“Iya,ibu.” kataku sambil tersenyum padanya.
“Bu,Rendi mau bicara sama ayah sama ibu sekarang.” Kataku.

Lalu aku,ayah,dan ibuku duduk bersama di ruang keluarga.

“Ayah,ibu Rendi cuma mau bilang kalau keputusan perceraian itu sudah tidak bisa diubah lagi,Rendi tidak keberatan.Asal itu bisa membuat ayah dan ibu bahagia.” Kataku dengan akan mengeluarkan air mata.
“Rendi,apa benar ucapanmu nak?.”  Kata ayahku.
“Benar yah,kalau itu memang yang terbaik.” Kataku.

Sejak saat itu aku bersama kedua orang tuaku hidup terpisah.Kedua orangtuaku hidup bahagia dengan kehidupan mereka sendiri.Sedangkan aku pindah sekolah ke salah satu pesantren untuk memperdalam pengetahuanku tentang agama.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar